Saturday, July 30, 2022
sepasang tangan Hangat, mu
Diwaktu kemarin sepasang tanganmu pernah menjadi sigap mencegah tanganku ketika akan menambah rasa pedas dimakananku
Diwaktu kemarin sepasang tanganmu selalu setia menjadi tempatku untuk menyambut temu setelah jarak yang terbentang diantara kita
Diwaktu kemarin sepasang tanganmu selalu menjadi tempat wajahku berlindung, bersembunyi dibalik dekapan hangatnya
Diwaktu kemarin sepasang tanganmu pernah menjadi untuk yang mengisi sela-sela jemariku, menggengamku dengan lembut, meredam segala resah dan gelisah
Diwaktu kemarin sepasang tanganmu pernah menjadi bagian dari tempat persembunyianku, setiap kali aku kehujanan dan tidak ingin menampakkannya kepada dunia
kini tangamu begitu asing- terlampau asing untuk ku kenali lagi
kini tanganmu berpindah tempat untuk seseorang yang lain
kini tanganmu berubah melindungi wanita lain
kini tanganmu bukan lagi tangan yang pernah menjadi rumahku
Thursday, March 11, 2021
Salah
Bagaimana pertanyaan itu bisa kau ucapkan secara gamblang?
Kau tahu salahnya dimana?
Sejak awal ketika kita tidak bertaut dalam satu cerita yang sama.
Aku dan kamu sama-sama memiliki sebuah kesalahan.
Masing masing dari kita adalah kesalahan yang mencari sebuah penggenap untuk menjadi benar.
Sepasang kesalahan yang secara egois untuk menjadi benar dengan menjadi kita.
Hingga satu waktu kamu sendiri yang tanpa sebuah kata, menyadari bahwa kesalahan yang kita coba untuk menjadi benar, tidak akan pernah terwujud.
Kau sendiri yang melangkah pergi, menghilangkan dan meninggalkan dan telah menemukan satu, yang bisa membuat kesalahan di dirimu berhasil menjadi sebuah benar.
Lantas, kenapa sekarang setelah kau sudah menjalani hidupmu dengan benar, kau melontarkan pertanyaan seperti itu?
Masih belum jelaskah, keegoisan dari masing masing kesalahan yang dimiliki kita paksakan untuk menjadi benar?
Aku dan kamu adalah sepasang salah yang tidak akan pernah menjadi benar dengan menjadi kita.
Kita adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak kau teruskan, terlebih setelah kini kau telah menemukan benar dengan orang lain.
Thursday, March 5, 2020
Lantas aku bagaimana?
Sunday, July 28, 2019
Kado Terakhir Untukmu
Selamat malam, kamu yang pernah aku perjuangkan mati-matian hingga akhirnya aku sadar bahwa kau tidak pernah menganggap keberadaanku. Kamu yang hari ini sedang berulang tahun dan berbahagia dengannya. Banyak hal yang sebenarnya belum aku ungkapkan, namun aku sadar bahwa semuanya tidak akan merubah apapun. Kemarin kita sempat bertemu dan bersama. meski aku tahu kebersamaan kita tidak berarti apa-apa.
Tuesday, July 9, 2019
Aku, pernah
Monday, January 21, 2019
Separah itu kah?
Marah-marah didepan kalian?
Berteriak memaki kalian karna telah menyakitiku?
itukah yang kalian harapkan?
Sungguh, aku ingin seperti itu. Melampiaskan segala perasaan hancur dengan kemarahan
tapi tahu kah kalian?
Bagiku kemarahan itu hanya akan semakin merusak jiwaku yang sudah sangat berantakan
Dan aku tidak ingin balas menyakiti kalian meski hanya sekedar dengan perkataan kasar dan nada yang keras. Karna aku tahu, kedua hal itu amat sangat menyakitkan dihatiku. Untuk itu aku tidak ingin menjadi tersangka yang melakukan hal itu terhadap kalian.
Meski terkadang beberapa waktu kita sempat bertengkar hingga sampai di nada tinggi masing-masing
hingga sampai di titik keegoisan untuk tidak mau mengalah.
Sungguh, aku menyesali hal itu untuk kalian. Aku ingin tetap dalam keadaan baik baik saja meski setiap kali kalian menyerang pertahananku. Menghancurkan apa apa yang sudah hancur lebur.
Tapi aku masih sama seperti kalian, Aku juga manusia. Dimana ketika disaat kalian tetap berusaha menyerang habis-habisan meski aku sudah tidak menanggapi, aku masih memiliki sifat untuk mempertahankan diri. Sungguh, aku juga memiliki batas sabar sama seperti manusia pada umumnya.
Dan saat aku meminta kalian untuk berhenti, baik secara langsung maupun tidak, sedikitpun kalian tidak menghiraukannya. Kalian tetap dengan gigih ingin menghilangkan pertahananku.
Sungguh menjadi satu bagian yang menyenangkan ya bagi kalian untuk menghancurkan apa apa yang masih tersisa dari ketiadaanku?
Dan ketika tiba disatu titik aku terdiam. Diam menikmati setiap sakit dan luka yang kalian ukir dengan sangat hebatnya. Diam untuk tetap mempertahankan pertahanan yang sudah lenyap. Diam dalam isak tangis yang tertahan.
Kalian semua mundur dengan pasti
mundur menjauh. menghilang. meninggalkan
Dan terbesit dibenak kalian jika aku menyimpan dendam dan benci hingga tidak ingin bersapa atau bertatap muka lagi dengan kalian.
Dalam diam yang masih membungkamku, aku kembali bertanya
Siapa aku dimata kalian? masih berupa sosok manusia kah? Atau hanya sekedar sampah yang tak berharga sedikitpun?
Tidak, aku tidak pernah mengharapkan kalian meminta maaf untuk segalanya. Karna aku sudah selesai dengan mengharapkan hal itu untuk siapapun. Justru aku yang banyak menyimpan permohonan maaf untuk segala yang tidak berkenan dikalian.
Tapi lantas kenapa?
Ketika ada yang ingin kalian sampaikan atau kalian berikan kalian harus melakukannya melalui orang ketiga?
Kenapa tidak kalian berikan dan ucapkan saja langsung kepada orang yang kalian maksud?
Sejijik itukah kalian untuk melakukannya langsung?
Sebrengsek itukah aku dimata kalian, hingga kalian enggan untuk bersua langsung denganku?
Sehebat itukah aku membuat kalian menjauh dan meninggalkan aku sendiri, yang sama sekali tidak ingin sendirian ini?
Kali ini aku harus menyalahkan diriku sendiri lagi?
Mengutukinya berulang-ulang kali lagi?
Harus separah inikah untuk menjadi manusia yang baik untuk manusia yang lainnya?
dengan mengorbankan perasaannya sendiri untuk hancur lebur tak tersisa?
Harus separah inikah untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain tapi sebaliknya tidak dimanusiakan manusia lain?
Tuesday, May 8, 2018
Tanya
Sejak kapan baik harus dibalas baik juga?
Sejak kapan jika ingin menc*ntai harus dic*ntai lebih dulu?
Sejak kapan memangnya jika ingin dirindukan harus pernah merindukan?
Yang pergi tak selamanya butuh dicari
Yang hilang tak juga harus ditemukan
Yang jatuh bukan berarti baru sekali merasakan
Lalu apa lagi yang mau ditanyakan?
Masihkah sebanyak itu?
Sudahlah, kamu hanya perlu mengerti
Bahwa bumi tak selamanya akan terus berputar
Bahwa bumi memang masih berotasi sedang manusia berevolusi
Bahwa bulat memang tak bisa dipastikan adanya
Kamu juga harus semakin paham
Jarum jam tak selamanya terus menghitung detik
Yang tenang bukan berarti tak bisa menghancurkan
Tahu arah kaki melangkah setelah ini kemana?
Tak usah jauh memikirkan
Rasakan saja apa yang sedang dan masih bisa dirasakan
Meskipun terkadang itu membuatmu tercekik hingga sulit bernafas dengan baik
Bila temukan banyak tanya ditulisan ini
Maka kamu akan tahu bahwa semua hal bisa menjadi tanya
Namun, kamu juga harus cukup paham
Bahwa tak semua tanya memiliki jawaban
Namun, jika membaca ini tak kamu temukan awal dan akhir
Mungkin kiranya memang tak ada yang pernah dimulai bahkan diakhiri
Dan bila tak juga kamu temukan tanda baca selain tanya
Semoga paham mengapa demikian