Cinta ... adalah salah hal yang paling sering dijadikan topik perdebatan. Ada banyak pendapat pandangan mengenai cinta. tiap-tiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang cinta. Bagi diriku dan jutaan umat islam didunia ini, agama islam sudah dengan sangat jelas menggambarkan,menjelaskan dan memeberi petunjuk tentang apa dan bagaimana menyikapi cinta. Melalui Ayat suci Al-Qur'an serta Al-Hadist, Allah SWT menjabarkan semuanya.
Menurut
hadist Rasulullah SAW, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat
dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata
Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa
`abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
(1)
lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2)
lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3)
lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri
sendiri.
Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara
dengan Allah SWT, dengan membaca firman-Nya, lebih suka bercengkerama dengan
Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada
perintah yang lain.
Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya.
Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya.
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “ngegemesin”.
Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah
dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan
hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini
lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri.
Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih, meski untuk itu ia harus
menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan
kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang
bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Maka
dari itu dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni
orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari
garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang
disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung
tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah
sekaligus, biasanya saling setia lahir batin dunia akhirat.
3. Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat
membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks
orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu
kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba)
bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang
dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana
cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega
membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term
ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak
menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (QS 24:2).
6. Cinta shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap
hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama
kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni
kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (QS 12:33)
7. Cinta syauq (rindu) Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan
bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat
kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad;
wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku
mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan
untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al
Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya
berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi
qalb al muhibbi.
8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh
anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta
ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang
kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (QS 2:286)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga berpesan , Bahwa…
“ Jangan pernah kau menyalahkan cinta, tapi salahkan mereka yang menyalahgunakan cinta hingga berbuat dosa ”.
Jika kamu belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam. Karena diammu, adalah salah satu bukti cintamu padanya.
Dengan begitu, kau telah memuliakan dia, karena kamu tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang dan tak mau merusak kesucian serta penjagaan hatinya..
Dengan diammu, kau dapat memuliakan kesucian diri dan hatimu, menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu.
Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya.
Karena mungkin saja, orang yang kau cintai adalah juga orang yang telah Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan untukmu. Ingatkah kalian Ukhty, tentang kisah Fatimah dan Ali Radhiyallahu ‘anhum ? Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan.
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah.
Kekuatan harapan, kekuatan impian, hingga mungkin saja Allah akan membuat
harapan dan impian itu menjadi nyata.
Dan cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata.
Dan cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata.
Bukankah Allah tak
akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap dan berdo’a pada-Nya ?
Dan jika memang ‘cinta dalam diammu’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap dalam diam. Iyaa… biarkan… karena Allah Ta’ala masih punya rencana dan ‘hadiah’ lain untukmu.
Jika dia memang bukan milikmu, melalui waktu akan menghapus ‘cinta dalam diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah, dan orang yang tepat oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu, menjadi memori tersendiri dan biarkan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.
Dan jika memang ‘cinta dalam diammu’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap dalam diam. Iyaa… biarkan… karena Allah Ta’ala masih punya rencana dan ‘hadiah’ lain untukmu.
Jika dia memang bukan milikmu, melalui waktu akan menghapus ‘cinta dalam diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah, dan orang yang tepat oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu, menjadi memori tersendiri dan biarkan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.
Tata hatimu…
Sudahkah aku pantas untuk dia? Benar-benar pantas…???
Biarkanlah jiwamu terbang bebas menjalani semua niatmu, yang terpenting, kita perlu berbaik sangka selalu pada Allah Ta’ala.
Pasangan kita, adalah cerminan sosok yang hampir mirip dengan kita.
Cintamu pada orang yang kau cintai dan sayangi, titipkanlah.
Titipkanlah pada Allah Ta’alaa.
Sebab hanya Allah Ta’ala yang Maha Menjaga.
Dikala kau dan dia saling berjauhan.
Dikala kau dan dia saling memendam rindu, ingin bertemu.
Allah menjaga dengan menenangkan hatimu melalui dzikir dan tadabbur.
Cintamu pada orang yang sungguh-sungguh kau sayangi, adalah milik-Nya.
Yakinlah, Allah akan memberikan ganti
yang lebih baik lagi atau mewujudkan mimpimu di kemudian hari. Bersabarlah
dalam diammu. Karena tulang rusuk takkan tertukar apalagi tersasar.
Sudahkah aku pantas untuk dia? Benar-benar pantas…???
Biarkanlah jiwamu terbang bebas menjalani semua niatmu, yang terpenting, kita perlu berbaik sangka selalu pada Allah Ta’ala.
Pasangan kita, adalah cerminan sosok yang hampir mirip dengan kita.
Cintamu pada orang yang kau cintai dan sayangi, titipkanlah.
Titipkanlah pada Allah Ta’alaa.
Sebab hanya Allah Ta’ala yang Maha Menjaga.
Dikala kau dan dia saling berjauhan.
Dikala kau dan dia saling memendam rindu, ingin bertemu.
Allah menjaga dengan menenangkan hatimu melalui dzikir dan tadabbur.
Cintamu pada orang yang sungguh-sungguh kau sayangi, adalah milik-Nya.
Cintai dalam diam jika kau belum siap
menjadi miliknya yang sah.
Dikisahkan sebuah kisah cinta dalam diam yang teramat istimewa
Yaitu cinta antara
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta yang
selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga
akhirnya Allah menyatuk.an mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon karena teramat
rahasianya, setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya.
Sudah lama Ali
terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu
Bakar dan Ummar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk
melakukannya.
Namun kesabaran
beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan
lagi keshalihannya tersebut, ternyata ditolak oleh Rasulullah.
Hingga akhirnya Ali
memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi
diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah
ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat
dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada
Ali,
" Maafkan aku,
karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta
kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya".
Ali pun bertanya,
mengapa Fatimah tak mau menikah dengan pemuda tersebut, dan apakah Fatimah
menyesal menikah dengan Ali.
Sambil tersenyum
Fatimah menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu".
Ada Kisah lainnya
[Kutub
Tarajim membenarkan kisah ini.] "Suatu saat Fatimah tidak makan
berhari-hari karena tidak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib,
melihat mukanya pucat dan bertanya, "Mengapa engkau ini, wahai Fatimah,
kok kelihatan pucat?"
Dia menjawab, "Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan
di rumah."Ali menimpali, "Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?"
Dia menjawab, "Ayahku, Rasulullah saw., menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta."
Subhanallah… Luar biasa bukan
Kutuliskan ini…
Untuk kalian, yang selalu melandaskan cinta karena-Nya…
Duhai Rabbi, sesungguhnya Engkaulah pemilik hati, yang menumbuhkan kerinduan dalam diriku untuk bertemu belahan jiwaku. Menciptakan kasih sayang di antara kami, agar tentram hidupku dan merasakan kebahagiaan atas indahnya ciptaan-Mu.
Duhai Rabbi, jika tak pernah cukup
amalku membawaku ke surga-Mu. Berikanlah aku seorang imam yang akan mendo’akanku
menjadi bidadari surganya, hingga do’anya menjadi salah satu alasan bagi-Mu
mengisi salah satu surga-Mu dengan aku.
Duhai Rabbi, jika tak pernah mampu
aku memberatkan timbangan amalku dengan ibadahku sendiri. Berikanlah aku
seseorang yang membuatku mengabdikan diri kepadanya, sebagai bukti cintaku
kepada-Mu. Agar ridhanya menjadi kunci bagiku membuka surga-Mu. Dan pengabdian
padanya adalah ibadah mulia yang kulakukan atas nama cinta kepada-Mu.
Duhai Rabbi, andai itu semua tak
layak untukku. Pertemukanlah aku dengan jiwa, baik yang kurindu itu, yang
mengaitkan cintanya kepada-Mu. Hingga semakin kuat cintaku kepada-Mu, hingga
kami berkumpul dalam naungan kasih sayang-Mu. Dan maafkan kami atas kesalahan
kami yang pernah memburu cinta yang hadir tanpa-Mu. Yang datang tidak atas
nama-Mu.
Dan biarkanlah kami menjadi hamba yang mengisi menara-menara langitmu. Yang Kau janjikan akan terisi dengan mereka yang saling mencintai karena-Mu.
0 comments:
Post a Comment